Showing posts with label My Fam. Show all posts
Showing posts with label My Fam. Show all posts

Monday, March 27, 2017

Kaisar



Menakjubkan.
Setiap ada yang tanya gimana rasanya (melahirkan), aku selalu jawab menakjubkan.
Menakjubkan rasa sakitnya menakjubkan rasa bahagianya. Allah maha adil, terbukti.

Empat februari dua ribu tujuh belas.
Bersama satu bidan dan dua asistennya yang membantu proses melahirkan, suami yang selalu mendampingi, dan mama mertua yang berdoa tiada henti. Anak kami, Kaisar disambut ke dunia. Penuh cinta dan perjuangan. 

Ternyata.
Dengan cara apa pun ia lahir, berapa lama prosesnya, seberapa cepat gelombang kontraksi itu datang,  bayi yang lahir akan selalu membawa kebahagiaan seutuhnya. 


Saturday, January 17, 2015

Overview



“Life can only be understood backwards, but it must be lived forwards.” 
–diambil dari bio ig @indradya

Banyak. Banyak banget hal yang aku syukuri darinya, seorang ayah sepertinya. Semakin aku kagum makin aku sakit karena ia tak lagi bisa kuajak bicara, bertanya tentang hidup yang ia jalani untuk kami dan hidup yang kami sia-siakan tanpa bisa berterima kasih. 

Hal yang aku ingat saat bapak masih hidup adalah ia sangat rewel dan merepotkan. Ia hanya seorang ayah lumpuh penggerutu, dan tak bisa aku banggakan di depan teman-temanku (dengan penampilannya). Sepertinya ingatanku tentangnya berhenti sampai saat aku kelas enam SD saat ia sakit dan harus hidup dengan cacat fisik. 

Baru dua belas tahun kemudian aku sadar bahwa ayahku hebat, ia mampu menghidupi keluarganya tanpa tubuh sehat. Hanya dengan duduk santai dan mengomel, ia mampu. Ternyata. Bahkan sampai ia pergi, kami masih bisa merasakan sisa-sisa hasil jerih payahnya.

Biar kuberi sedikit rincian. Waktu pertama kali mengenal asuransi, aku sangat menyayangkan mengapa bapak tak punya asuransi. Andai saja bapak kenal asuransi aku bisa sekolah dan bapak bisa berobat dengan bekal polis asuransi yang sebelumnya sudah disiapkan. Tanpa menggangu uang tabungannya. Tapi, mungkin waktu itu bisnis asuransi belum seramai sekarang. Orang-orang yang sadar asuransi masih sedikit. Aku tidak bisa menyalahkan bapak.

Jika dipikir lebih dalam, manfaat asuransi adalah untuk orang yang ditinggalkan. Bukan masalah bagaimana ia hidup dan seperti apa ia meninggal, tapi bagaimana ketika ia sakit bahkan sampai meninggal ia masih bisa memberikan nafkah bagi keluarganya. Dan tanpa asuransi, bapak bisa melakukannya.  Proud of you, Pak.

Bapak tidak terdidik untuk mengenal asuransi, tapi bapak ahli berinvestasi. Ia banyak menghamburkan uangnya untuk tanah dan sawah. Yang akhirnya bisa bermanfaat untuk kami.

Ternyata ...

Butuh belasan tahun untuk aku akhirnya mengerti. Untuk aku bersyukur atas apa yang pernah aku miliki.

Semoga belum terlambat untukku mensyukuri apa yang sedang dan akan kumiliki.

Tuesday, December 23, 2014

Berisik!



Katanya kemaren hari ibu yah, tahu pas liat timeline twitter. Tadinya pengen gue retweet. Tapi gak jadi. Males, ah. Kalo jadi pun paling cuma pengen sok-sok an kalo gue notice itu hari apa. Pengen dilihat orang kalo gue up to date. Gak bikin gue pergi ke kuburan terus berdoa buat si mama. Terus ya udah, tgl 22 Desember berlalu begitu saja, gak ada yang spesial.

Sampai satu percakapan bikin gue terhisap bukan balik lagi ke tgl 22, tapi ke saat di mana gue masih bisa denger mama gue ketawa ngakak, nangis sesegukan, marah treak-treak. Gue rindu. 

Saat terakhir gue lihat mama itu di teras rumah, dia natep gue lekat sampe amang tukang ojek membawa gue pergi. 

Temen gue yang udah orphan (juga) bilang dia smaleman sedih, nangis ampe tidur larut. Dia inget mamanya. 

Dan gue yang tadinya biasa aja sama hari ibu jadi langsung ngerasain sakitnya, dia bilang ga tahan lihat medsos tgl 22. Isinya tetiba banjir berlelehan poto bareng emak. Lagu nasional hari itu berubah jadi lagu Bunda – Potret. Dia sirik. Gue juga jadi ikutan. 

Sama aja sih, kayak lo upload poto lagi belanja di Myong dong pas yang lain sibuk kerja ga bisa ambil cuti. Check in makan di resto mahal bareng pacar pas ada yang baru putus. Sama-sama bikin sirik. Bedanya, kalo kangen ibu yaa cuma gak bisa diobatin dengan punya mama baru atau minjem mama orang aja. Sayang seorang ibu tuh, gak terganti, men.

Bukan salah orang-orang yang posting dong, mereka kan cuma pengen banggain ibunya. Pengen berbagi cinta kasih anak-ibu ke temen-temennya. Apapun modus mereka, intinya tentang ibu. Kalian punya representasi dan makna masing-masing. 

Gue nulis ini sekedar curhat aja, no offense. 

Jadi inget celoteh si kecil Rosy di film We Bought A Zoo, “Their happy is too loud”

Kadang kita ga nyadar, kebahagiaan kita ternyata membawa rasa sakit bagi yang lain.
That’s why, syukur itu ada. Biar kamu gak lupa tanah, pas lagi lihat pelangi.


Tuesday, August 28, 2012

Ayda



entah apa yang buat aku suka poto sepatu.
ini kaki kecil Sayidah Kayyis Fadilah, salah satu ponakan lucu imut ku.

ponakan yang baru bisa bilang "apa" dengan jelas.
"emak" kadang-kadang, "aa" kalo lihat anak cowok. "teteh" masih jarang. "abah" sesekali.
lalu apa dan apa, lagi dan lagi.
lucunya!








Friday, September 2, 2011

Dialah...

Lebaran memang selalu menjadi momen kumpul keluarga. Setiap tahun, rutinitas lebaran akan kami lakukan, begitu. Selalu seperti itu. Dan aku, selalu menikmatinya. Bangun pagi, selarut apapun tidur. Shalat ied berdua dengan ibu dirumah. Sementara para pria pergi ke mesjid.

Aku merindukannya, suara tongkat itu, suara air hangat  yg mengucur kedalam ember saat ia whudu. Kaki kotornya, aku merindukan semuanya. Ia seperti manusia purba yang tak pernah memerlukan alas kaki untuk berjalan. Kemanapun. Kakinya selalu kotor. Dimanapun. Dan itu masalahnya, aku akan malas disuruh membawa teko berisi air hangat ke mesjid. Untuk membasuh kaki-kaki dengan kuku-kuku hitam dibawah tangga mesjid.

Kadang jika aku sedang merasa bersyukur. Aku akan mengaguminya. Sangat. Dengan cara berjalan, tatapan yg tak ingin diremehkan. Dan perintah sana-sani-nya seakan ingin menutupi rasa belas kasihan orang lain terhadapnya. Tapi itu jarang terjadi. Sayang sekali.

Menunggu, itu lah yang kami lakukan selepas shalat ied. Lalu berhambur kedepan rumah, saat para pria pulang dari mesjid. Aku akan menyalaminya, ia tersenyum tipis. Tapi aku melihatnya, melihat senyum itu. Ia memafkanku, aku tahu. Ia akan rewel minta ini itu, mengatur begini begitu.

Aku bisa melihatnya, meski ia tak pernah mengatakannya. Ia lelaki tua dengan kaki terpincang-pincang ketika berjalan, adalah sangat mencintai semua cucunya. Ia membelikan sepeda, baju, topi untuk cucu pertamanya, mengingat-ingat nama cucu keduanya Zerlinda Reri Fadilah,

“Ini untuk Zelin, jangan lupa buat Zelin”. Ia tanpa ragu, mengunjungi kakak perempuanku meminta air dingin, kadang minta dibuatkan kopi. Hanya untuk melihat cucu ketiganya berlarian kesana-kemari. Atau hanya menangis digendongan ibunya. Untuk yg keempat dan kelima, kasihan sekali kalian tak sempat mencicipi rasa cintanya. Lelaki itu, yang bahkan belum sempat menjadi wali bagiku.
Tahun ini, untuk kedua kalinya. Kami tak bisa menemukannya di rumah. Tak perlu menunggunya kembali dari mesjid. Tak perlu repot membawakan teko untuknnya, memayunginya saat hari berhujan. Dia tak ada disudut rumah bagian manapun. Tak ada dikamarnya, tak duduk bersila dengan kopi dan rokok di kursi favoritnya, tidak pula sedang menonton berita di TV sambil menelan obat-obat teman hidupnya. Ia benar-benar tak datang.

Kini kamilah yg harus mengunjunginya. Hanya berbaring disamping nenek. Ibunya. Mereka berdua tampak tenang tak bergeming. Disisi-Nya. Bersama doa-doa kami.  Amin.



P.S. dialah ayahku. Ayah nomor satu didunia ku.
Dialah ayah, pahlawanku.
Aku mencintaimu, Ayah. ♡

Friday, August 26, 2011

Dapur di Akhir Ramadhan

Suatu hari di minggu terakhir bulan Ramadhan. Budayanya adalah dapur setiap rumah akan benar-benar hidup. Dengan bunyi mixer terngiang, adonan berlelehan dilantai, aroma coklat yg menguar di udara. loyang-loyang kembali mengkilat, telapak tangan lengket, dan semua aroma kue-kue menyebar keseluruh isi rumah. Begitupun, ia... wajah polos tak sabaran itu memutar-mutar mixer yg tampak sedikit macet. Ia memarahi alat itu tanpa puas. Seseorang ia panggil untuk membantu.

Ia mulai menyerah, menyuruh orang itu keluar dengan benda yg ia anggap sudah tak berguna.

Aku hanya terus memasukkan sedikit selai nanas yg dingin dan mengeras kedalam adonan yg sudah ia bentuk tak keruan. Tapi biarlah, ia hanya bocah yg ingin ikut berpesta di dapurnya sendiri. Seperti orang-orang dengan dapur mereka masing-masing.
“Memangnya kenapa? Mixer itu?” Aku hanya penasaran tanpa sedikitpun ingin terlibat.
Muka kesalnya masih tarlihat tanpa kulirik.              
“Entahlah, ada yg mengganjal” lalu bunyi desahan muncul, pekikan tertahan. Sampai ia melanjutkan
“Pengen nangis rasanya”. Itu terlihat tanpa ia katakan. Aku pikir dia memang sudah menangis.

Aku mempercepat tangan ku, terus menusukkan selai nanas. Asal-asalan sama seperti bentuk adonannya. Tiba-tiba orang diluar dapur berkata
“Bisa. Nih, udah bisa”. Bunyi kretak-kretak sudah berhenti. Orang itu masuk, dan memberikan mixernya.
“Bisa? Kenapa? Ada yg mengganjal?!” terdengar sangat lega ia terus  bertanya setengah berteriak kegirangan.

Tapi orang itu tak memberikan penjelasan apapun, hanya pergi.

Tidak sopan. Aku pikir kenapa orang itu tidak menjawab satu saja pertanyaan yg dilontarka ibunya. Ah, mungkin orang itu juga sama seperti ku. Hanya penonton yg tak mau terlibat pertunjukan. Karna sama-sama tahu akibatnya. Jika kami ikut campur.

Sambil terus memberi selai, aku mulai memikirkan tingkahnya. Yg semakin aku yakini, memang layaknya anak kecil. Dan aku pun tahu bahwa aku harus bisa membahagiakannya. Dengan caraku, untuk ibuku.

Kaburnya Para Kuda

Aku merasa ibuku hidup dibalik sisa-sisa masa kejayaannya. Yah, aku menyebutnya seperti itu karena kini, bagiku dia seperti anak kecil. Yg bisa menangis kapan pun saat apa yg dia inginkan tak bisa ia dapatkan. Dulu ia sering sekali mengeluh tentang orang-orang yg selama ayah ku hidup dan jaya mereka menggantungkan hidup pada ayahku. Tapi setelah ayahku lumpuh apalagi kini telah tiada, mereka seperti kuda-kuda yg meninggalkan majikannya karena tak dapat lagi memberi mereka makan. Mereka mulai mandiri, menjadi tuan bagi diri mereka masing-masing. Ada suatu waktu dimana ibuku terus-menerus merutuki nasibnya dan mengocehi mereka -para kuda-kuda itu- satu-persatu. Hingga ia puas, dan akhirnya hanya bisa menangis.

Ketika aku berumur lebih kecil, aku akan sama halnya dengan ibuku. Menghujat para kuda-kuda itu, dalam hati. Tapi sama-sama menangis, dan merasa dada sesak serta tenggorokan meradang. Karena semua apa yg kami miliki dulu, tak bisa kami miliki lagi kini. Semakin besar umurku, aku baru menyadari bahwa apa yg kami lakukan adalah sia-sia belaka. Meski sampai darah keluar dari bola mata kami, ayah ku tetaplah tiada. Kuda-kuda itu tetap tak menoleh melihat  ringkihan mantan tuannya.

Entah kenapa aku merasa aku telah dewasa saat aku tiba-tiba berkata
“sudahlah bu, jangan disebut-sebut lagi. Biarkan saja”.
Didepanku, ibuku hampir mengeluarkan semua ocehannya sampai dia mendengar akhir kalimatku, dan menimpali
“iyah, emang baiknya gitu. Jangan disebut-sebut lagi. Kamu harapan ibu. Kita gak usah pedulikan mereka”.

Aku merasa menang, akhirnya aku bisa bersikap selayaknya anak. Tapi disaat bersamaan aku merasakan pundakku semakin berat dengan beban-beban maya yang hanya aku dan ibuku yang bisa melihatnya.