Sunday, December 7, 2014

Sunyi



Setelah nonton Sherlock Holmes: His Last Vow …

Sherlock menyadarkanku sesuatu, he said that love is a human error. Di mana ada manusia di situ pasti ada kelemahan. Dan menggunakan titik lemah “cinta” jadi salah satu cara Sherlock menyelesaikan misi detektif nya. You are so mean, Sherl! But,  still the best (Mr. Cumberbatch) :P

Jika Sherlock mengungkap sisi gelap cinta dengan cerdik, dr. Watson mengajarkan bahwa cinta itu anugerah. Watson is a gentleman for real. 

Klise tapi menggelitik untuk dibahas. Saat Watson menyadari bahwa istri yang baru ia nikahi ternyata seorang pembohong. Mary yang dicintai Watson ternyata menyimpan rahasia besar yang membuatnya harus rela menghabisi nyawa sahabat suaminya sendiri. Tapi, yang perlu di highlight di sini adalah sikap Watson setelah tahu kelakuan istrinya. Apa dia marah? Yup, absolutely he did. Marah yang masih terkendali, dia butuh waktu untuk berpikir kemudian memutuskan …

“masalah tentang masa lalumu adalah urusanmu, masalah masa depanmu … adalah hakku. Itu semua yang ingin aku sampaikan, itu semua yang kuingin kau tahu”. Watson melanjutkan “semua ini bukan berarti aku tidak marah, aku sangat marah dan itu akan muncul sekarang dan nanti”.

See? Betapa cinta itu anugerah. Watson menerima istrinya kembali dalam pelukannya. Emang sih, it’s not a fairytale… siapa tahu kedepannya masalah masa lalu istrinya ini akan terus menghantui. Yang jelas Watson memilih untuk gak mau tahu masa lalu istrinya, hidup bahagia dibanding ngeributin siapa dan bagaimana istrinya dulu.

Let’s Back to Reality.

Based on  my retweet :
Iya sih da suka kepo "@idillionaire: Girls always find things out."



Dari sengaja atau tidak sengaja, akhirnya aku tahu ternyata dia juga menyimpan rahasia besar tentang masa lalunya.
Cukup alasan untuk akhirnya hening. 


Days of deafening ....

No comments:

Post a Comment